Tips Jual Beli Tanah : Awas Surat Surat Ilegal Dan Tidak Asli

Kita pindah dari investasi barang asli/original, ke sebuah jenis investasi yang selalu menguntungkan, tanah. Salah satu kebutuhan primer manusia adalah keinginan mempunyai sebuah rumah, tanah atau bangunan lain. Meskipun sedikit rumit dalam mengurusnya, Anda harus sedikit bersabar dalam mewujudkan cita-cita Anda untuk mempunyai tanah dan rumah impian.

surat tanah asli palsu

Menurut Undang-Undang tentang kepemilikan tanah atau lahan yaitu Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA), menyatakan bahwa jual beli merupakan proses yang dapat menjadi bukti adanya peralihan hak dari penjual ke pembeli. Artinya jika harga yang dibayarkan belum lunas maka proses jual beli belum dapat dilaksanakan.

Sebuah transaksi jual beli tanah, memang tidak bisa disamakan dengan membeli jajanan di pinggir jalan, yang setelah di beli transaksinya pun selesai. Karena jual beli tanah terkait erat dengan aturan hukum. Bukan menakut-nakuti, semisal setelah anda melakukan transaksi jual beli tanah ternyata kelengkapan surat-suratnya bermasalah ataupun status tanah yang di beli dalam sengketa. Maka untuk keamanan dan kenyamanan Anda dan juga kelegalan surat atau sertifikat yang Anda dapatkan nanti, bacalah tips jual beli tanah : awas surat surat ilegal dan tidak asli berikut ini:

1. Data Penjual: Beberapa hal yang harus disiapkan bagi seorang penjual:

  1. KTP suami istri beserta fotokopinya (bagi yang sudah menikah)
  2. KK (Kartu Keluarga)
  3. Surat Nikah (bila sudah menikah)
  4. Sertifikat asli Hak Atas Tanah yang akan di jual seperti Sertifikat Hak Milik, Sertifikat Hak Guna Bangunan atau serifikat-sertifikat lain yang di buat oleh PPATK. Selain itu juga sertifikat yang di buat oleh notaris.
  5. Bukti pembayaran pajak selam 5 tahun terakhir (Pajak Bumi Dan Bangunan atau PBB)
  6. Surat keterangan WNI (jika ditemukan nama asing biasa diminta Kantor pertanahan)
  7. Bila sudah menikah, harus ada bukti persetujuan dari suami maupun istri
  8. Jika suami atau istri penjual sudah meninggal maka harus disertakan juga akta kematiannya
  9. Jika suami/istri telah bercerai, maka harus membawa surat penetapan dan akta pembagian harta bersama yang menunjukkan keabsahan sang pemilik tanah
  10. NPWP

2. Data Pembeli: Data-data yang harus disiapkan oleh pembeli:

  • KTP suami istri (bila sudah menikah)
  • KK (kartu keluarga)
  • Surat Nikah (bila sudah menikah)
  • NPWP

3. Obyek yang diperjualbelikan (Tanah atau Bangunan)

a. Tanah Warisan

Apabila yang diperjual belikan merupakan tanah warisan yaitu tanah yang di miliki pasangan suami istri (namun telah meninggal dunia) sehingga di berikan kepada sang ahli waris. Jika ahli waris ingin menjual tanah warisan, maka harus melakukan balik nama atas tanah tersebut. Selain hal tadi, masih ada beberapa hal yang harus dipersiapkan dalam melakukan proses jual beli tanah, yaitu:

o Surat hak waris
o Fotokopi KTP seluruh ahli waris
o Fotokopi KK
o Fotokopi surat nikah (bila sudah menikah)
o Semua ahli waris harus hadir dalam proses penandatanganan akte jual beli, atau Surat Persetujuan dan Kuasa dari semua ahli waris kepada salah seorang diantaranya yang dilegalisir Notaris bila berhalangan untuk hadir.
o Bukti Pembayaran BPHTB waris atau pajak ahli waris yang besarnya adalah 50% dari BPHTB jual beli setelah dikurangi dengan nilai yang tidak terkena pajak.

b. Tanah Girik

Tanah girik adalah tanah bekas hak milik adat atau suatu suku yang belum terdaftar atau belum mempunyai sertifikat dari kantor pertanahan setempat. Jadi, girik bukan menjadi bukti kepemilikan tanah. Namun, girik merupakan bukti bahwa sang pemilik girik tadi adalah pembayar pajak atas sebidang tanah adat atau suku tadi beserta bangunan yang berada di atasnya.
Berikut yang harus dilakukan dalam jual beli tanah girik:

o        Akta asli girik
o        Bukti pembayaran pajak bumi dan bangunan dari pemilik girik
o        Bukti keterangan bahwa tanah girik bukan dalam status sengketa
o        Surat keterangan riwayat tanah dari kantor setempat yang menyatakan asal muasal tanah girik tersebut.
o        Surat keterangan dari kantor setempat bahwa tanah belum diperjual belikan.
o        Meminta girik asli dan memastikan bahwa nama yang tertera sebagai pemilik juga tertera dalam AJB
o        Pengakuan kepemilikan tanah secara fisik dan dilanjutkan dengan pembuatan gambar situasinya.
o        Penelitian dan pembahasan panitia ajudikasi
o        Pengumuman surat permohonan hasil perundingan panitia ajudikasi
o        Penerbitan surat pemberian hak
o        Pencetakan sertifikat tanah

Namun perlu diingat kembali bahwa girik bukan merupakan bukti kepemilikan tanah, jadi harus diubah menjadi sertifikat dulu, dengan cara:

o        Mempersiapkan AJB dan girik asli
o        Fotokopi KTP asli
o        Surat penguasaan fisik tanah
o        Surat keterangan kantor setempat
o        Surat bukti PBB
o        Surat kuasa bila yang mengurus orang lain

Bila semua lengkap lanjutkan ke BPN agar mengurusi proses pengubahan dari girik menjadi sertifikat.

4. Proses pembuatan Akte Jual beli (AJB) dilakukan di kantor PPATK
5. Pembuatan Akte Jual Beli Tanah (AJB)
6. Proses ke Kantor Pertanahan

Semua kegiatan itu memang akan memakan banyak waktu Anda, banyak usaha juga yang harus Anda lakukan dalam transaksi jual beli ini. Tidak ada salahnya untuk bersabar dan tidak tergesa-gesa dalam membeli tanah. Lebih teliti dan cermati dengan seksama proses dan pelaksanaan dalam setiap transaksinya serta pahami juga tips jual beli tanah : awas surat surat illegal atau tidak asli supaya anda terhindar dari kekeliruan dan masalah yang mungkin terkait dengan hukum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *